Renungan, 7 Langkah Kecil Ini Bisa Selamatkan Pelajar Indonesia dari Kehancuran

Suatu ketika kami iseng survei kecil-kecilan. Kami sengaja ngetik kata kunci “pelajar” di laman pencarian Google, dan tahukah kamu apa yang kami temukan? Kami menemukan barisan kabar buruk terkait pelajar di halaman pertama. Adapun hasil pencarian tersebut diisi oleh berita-berita tindakan kriminal dan asusila yang dilakukan oleh pelajar.

Jadinya, kami berpikir, apa iya pelajar Indonesia memang seburuk itu?

Terlepas dari prinsip media “bad news is good news”, terlalu banyak mengonsumsi berita buruk justru akan membentuk citra buruk di mata masyarakat. Sangat mungkin jika masyarakat beranggapan bahwa sebagian besar pelajar Indonesia punya kepribadian yang bobrok dan krisis moral karena maraknya berita buruk tentang pelajar itu. Ya, jelaslah kita sebagai pelajar marah banget dengan persepsi itu.

Kamu sendiri, ikhlas gak sih kalau kita, pelajar, dijelek-jelekan dan dianggap tidak bisa apa-apa? Tidak bukan?

Kita pengen protes, tapi kita tidak bisa apa-apa, ketika fakta-fakta mengejutkan hadir di tengah kita.

Kamu tentu masih ingat kasus-kasus terakhir yang sangat memilukan. Tentang pelajar yang menjadi korban perkosaan, korban penculikan, pembunuhan bahkan hingga human traficking alias jual beli manusia. Gilanya lagi, sebagian dari pelakunya justru dari kalangan pelajar itu sendiri. Demi Tuhan, rasanya pengen nangis kalau nemu berita begituan.

Baru-baru ini juga banyak kasus guru-guru yang dilaporkan ke pihak berwajib karena teguran-teguran kecil yang kalau di zaman angkatan 90-an itu amat sangat wajar. Tapi hari ini, menegur dengan cubitan kecil saja bisa berujung mendekam di penjara. Demi apa, kamu bisa menyangkal kalau dunia pendidikan kita hari ini sudah porak-poranda? Belum lagi kasus-kasus perploncoan dan bullying setiap kali tahun ajaran baru.

Dari segi pergaulan pun kita kecolongan. Banyak teman kita di luar sana butuh untuk diselamatkan karena mereka sudah menganggap hal-hal seperti miras dan seks bebas sebagai hal yang sangat biasa. Dari survei yang dilakukan oleh Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2013 didapatkan data 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks di luar nikah. Sementara dari data yang dirilis oleh BkkbN paada Agustus 2014 46% remaja Indonesia yang berumur 15-19 tahun telah berhubungan seks.

Indonesia adalah negeri timur yang sangat menjunjung norma, maka ketika generasi mudanya sudah mengabaikan nilai dan norma itu, kehancuran negeri ini hanya menunggu waktu. Hitungan mundurnya sudah dimulai dan bom sewaktu-waktu dapat meledak.

Namun pertanyaannya, apa kita bisa mengehentikan hitungan mundur itu?

Jawabannya adalah bisa. Ya, bisa sekali. Hanya jika,...

...kita mau berusaha bersama-sama, untuk menyelamatkan pelajar Indonesia. Menyelamatkan teman-teman kita bersama.

Pertanyaan selanjutnya, apa langkah yang bisa diambil dalam menyelamatkan pelajar Indonesia itu?

Berikut beberapa langkah kecil yang bisa kita lakukan demi menyelamatkan teman-teman kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita atau bahkan diri kita sendiri. Pastikan kamu terlibat dalam misi penyelamatan ini.

Membuat kesibukan-kesibukan positif untuk mengisi waktu bersama

Seseorang yang tidak memiliki kesibukan rentan untuk melakukan keburukan atau bahkan tindakan kriminal. Namun ketika dia memiliki kesibukan di luar jam belajarnya maka ia akan terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk.

Caranya bisa dengan ikut kegiatan ekstrakulikuler atau bahkan ikut nimbrung di kegiatan pemuda di tempat tinggal masing-masing. Pastikan kamu menghabiskan waktumu untuk hal-hal bermanfaat. Dan, jangan hanya menyelamatkan dirimu sendiri, ajaklah teman lainnya untuk ikut sibuk bersama.

Menyadari dengan baik peran guru-guru di sekolah

Guru-guru adalah orangtua kedua kita di sekolah. Pada dasarnya para guru memiliki naluri mendidik. Ingat ya, mendidik bukan mengajar. Mengajar hanya sebatas memberi pelajaran di depan kelas, mau mengerti atau tidak mengerti para siswa itu urusan siswanya.

Tapi mendidik berarti membimbing anak-anak didik untuk mengerti pelajaran-pelajaran sekolah hingga pelajaran-pelajaran hidup. Tidak jarang dalam mendidik para guru harus marah meski mereka tidak pengen. Tidak jarang, saking pengennya anak didik menjadi orang yang baik di masa depan, mereka terpaksa melakukan cubitan kecil, menyuruh keluar kelas atau peringatan-peringatan wajar lainnya.

Kalau kita menganggap hal-hal itu sebagai suatu yang kejam, sadis, keterlaluan atau sewenang-wenang maka betapa kejamnya kita telah berburuk sangka pada orangtua kita seperti itu.

Menciptakan tren-tren positif

Maraknya media sosial menjadikan orang-orang gampang untuk menciptakan tren-tren kekinian. Bahkan tren-tren aneh seperti mencium ketiak pasangan atau meme “dear mantan” yang sempat nge-hits beberapa waktu belakangan.

Nah, berbekal media sosial, kita juga bisa menciptakan tren-tren positif lho. Contohnya saja mengampanyekan gemar ke perpustakaan dengan cara mengambil foto kita di pustaka dan bikin hashtag #AyoKePustaka atau apa gitu.

Contoh lainnya bisa dengan kampanye baca buku untuk menaikkan minat baca siswa Indonesia sebab minat banyak masyarakat kita jauh tertinggal dari negara-negara tetangga di ASEAN, yaitu hanya 0,1% dari total penduduk Indonesia, sedangkan Malaysia memiliki minat baca hingga 16% dan Singapura 18% dari total penduduknya.

Dengan menciptakan tren-tren positif maka akan banyak yang ikut-ikutan jadi positif. Semakin banyak yang melakukan kegiatan positif, maka pelajar Indonesia akan terselamatkan dari kehancuran yang mengancamnya.

Mengajarkan pendidikan karakter mulai dari keluarga

Sebagaimana yang kita ketahui kalau madrasah atau pendidikan pertama adalah di dalam keluarga. Oleh karena itu peran orangtua dalam mendidik anak sangat-sangat besar. Guru-guru di sekolah atau siapapun hanyalah penyambung estafet atau pendidik sementara, sementara yang paling bertanggung jawab adalah keluarga anak itu sendiri.

Orangtua yang baik harus bisa mendidik anaknya dengan baik. Ketika seorang anak sudah terdidik dengan baik maka ketika ia tumbuh dan jadi besar nanti, ia akan menjadi orangtua yang baik pula ketika sampai waktunya.

Menjauhkan diri dari paham hedonisme

Ketahuilah teman, paham hedonisme atau bermewah-mewahan hanya akan menghancurkan kita. Nahkoda yang hebat lahir dari ombak yang besar, bukan dari air tenang tanpa riak. Artinya, beratnya perjuanganlah yang menjadikan seseorang sukses di kehidupannya.

Memelihara sifat hedon hanya akan membuat kita terlena dalam kemewahan, nah saat kita sudah ngerasa enak serba ada maka kita akan terpuruk jika kondisinya nanti kekurangan atau bahkan tidak ada sama sekali.

Lantas gimana cara menjauhkan diri dari paham hedonisme ini?

Beberapa di antaranya adalah berhenti menonton tontonan atau sinetron yang menggambarkan kehidupan mewah. Tontonan-tontonan di mana pelajarnya hampir semuanya kaya raya karena punya motor-motor bagus, rumah-rumah bagus dan lain sebagaimacamnya. Dunia nyata tidak seglamor itu.

Menguatkan dasar pemahaman agama

Salah satu hal dalam kurikulum pendidikan kita yang membuat kita miris adalah semakin sedikitnya porsi jam pelajaran untuk pelajaran agama. Padahal dengan agama seseorang bisa hidup dengan lebih teratur dan tenteram.

Ilmu yang kita miliki akan berbahaya jika tidak di-back up dengan ilmu agama yang kuat. Albert Einstein, salah satu orang paling jenius dalam sejarah, sangat menyesali penemuan mengenai bom atom yang kemudian digunakan Amerika Serikat untuk mengebom Nagasaki dan Hiroshima.

Nah, jika seseorang berilmu saja tapi tidak beragama, yakinlah bahwa ilmu yang ia miliki dapat menghancurkan dirinya sendiri sebab ia tidak sadar darimana ilmu itu berasal dan untuk apa harusnya digunakan. Sebaliknya, orang yang berilmu dan beragama akan menggunakan ilmunya dengan baik untuk kepentingan banyak orang dan ia sendiri akan merasa semakin kecil saat ilmunya semakin banyak. Ilmu pengetahuan ini sangatlah luas, apa yang telah kita pelajari hanyalah sebagian kecil saja.

Membagikan informasi dan berita positif kepada pelajar

Alasan kuat pelajar.me hadir di antara teman-teman semua adalah melaksanakan misi “Selamatkan Pelajar Indonesia”. Karena pelajar itu aku, pelajar itu kita. Maka mau menjadi seperti apa kita, kitalah yang berhak menentukan.

Apakah kita akan terus-terusan mengonsumsi berita-berita buruk mengenai pelajar (baik siswa maupun mahasiswa) dan semakin terpuruk dengan buruknya pandangan masyarakat pada kita?

Ataukah, kita mulai “berontak” dan mengabarkan pada dunia: inilah kami sebenarnya, kami punya hal yang bisa dibanggakan, kalian (para orangtua) bisa mempercayakan negeri ini kepada kami!!

Caranya tidak lain adalah dengan mulai kampanye besar-besaran mengenai hal-hal positif tentang pelajar, khususnya pelajar Indonesia.

Kamu bisa membagikan informasi baik apapun dari media apapun, sementara informasi buruknya udah biarin aja. Kita perbaiki persepsi orang banyak tentang kita sembari memperbaiki diri sendiri. Sebab, nasib suatu bangsa tidak akan berubah kecuali jika bangsa itu sendiri yang mengubahnya.

Kitalah yang akan mengubahnya, karena kita adalah agent of change atau agen-agen perubahan!

Masih berpikir semua ini hal yang sepele?

Dear kamu yang masih berpikirin skeptis dan gak mau merepotkan diri menyelamatkan teman-teman kamu sendiri, masih berpikiran semua ini hal yang sepele?

Kamu tahu kenapa Zimbabwe sangat-sangat terpuruk dalam hal ekonomi sehingga mesti membawa berkantong-kantong uang hanya uang membeli telur atau roti? Jawabannya karena tidak banyak generasi terdidik di negeri itu.

Kamu tahu kenapa Yunani bangkrut? Jawabannya adalah karena tidak banyak generasi terdidik di negeri itu sehingga tidak ada pakar-pakar ekonomi yang bisa menyelamatkan negeri mereka. Tidak ada pakar-pakar politik yang baik yang dapat mempengaruhi jalannya kebijakan di negeri mereka.

Kamu muak ya dengan koruptor-koruptor di negeri ini yang kalau disorot kamera berita lagaknya udah macam artis saja? Atau kamu kesel banget nenek-nenek yang mencuri mentimun dihukum tahunan dalam penjara sementara penjahat-penjahat negara di sana justru bisa seenaknya lolos dari jeratan hukum?

Sudah saatnya kita memperbaiki diri kita sendiri. Menyelamatkan diri kita. Menyelamatkan teman-teman kita.

Hai pelajar Indonesia, baik siswa atau mahasiswa. Ini adalah himbauan untuk kita semua agar merenungi semua ini. Dan tulisan ini hanya akan menjadi tulisan yang kosong melompong kalau tidak memberikan sesuatu pada kamu juga pada banyak orang lainnya.

Mari bangkit dari tempat duduk kita, mari maksimalkan apa yang kita punya. Tenaga kita. Hobi kita masing-masing. Bahkan gadget dan koneksi yang kita punya. Semua itu adalah senjata kita untuk berperang melawan pembodohan masal pelajar negeri ini.

Dan, tulisan ini pun datang dari hati kami, berharap bisa sampai ke hati teman-teman. Jika kamu merasa tercerahkan dan terbantu dengan tulisan ini, jangan lupa untuk membagikannya ke teman-teman yang lain. Misi penyelamatan pelajar Indonesia sudah dimulai dari detik ini! So, lets join with the community! Selamatkan pelajar Indonesia.[]

Comments

Popular posts from this blog

Apa perbedaan Pacaran, HTS dan Backstreet? Mana yang lebih baik?

10 Alasan Mengapa “Haram” Untukmu Melewatkan Kesempatan Student Exchange

9 Bukti Mahasiswa Farmasi Itu Unik, Pantang Menyerah dan Punya Karakter Kuat