Darurat, Sampaikan 10 Pesan Penting Ini Pada Seluruh Pelajar Indonesia

Pelajar.me – Kami tidak terlalu mempermasalahkan apakah kamu seorang pelajar sekolahan atau anak kuliahan, yang jelas pesan-pesan berikut ini wajib kamu baca dan pahami secara benar. Bahwa, tahukah kamu, negeri kita, Indonesia tercinta tengah berada dalam kondisi darurat?

Becanda? Gak ah. Kondisi darurat itu mungkin memang belum kita rasakan secara nyata hari ini, tapi ia tak ubahnya adalah sebuah bola salju yang siap menggelinding dan membesar. Ia adalah penyakit kronis yang semakin cepat diatasi akan semakin baik. Maka, sebelum terlambat, renungkanlah 10 pesan ini, terutama bagi kamu yang masih berstatus pelajar, baik siswa maupun mahasiswa.

#1 Pelajar Indonesia Wajib Nabung

Credit: bintang.com
Tak banyak yang tahu, alasan mengapa dalam reshuffle kabinet yang lalu, presiden Jokowi kembali memanggil pulang mantan menteri keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, adalah karena Indonesia tengah terjatuh dalam skenario buruk dalam keuangan. Sebagian besar uang negara habis dialokasikan untuk proyek infrastruktur yang apabila proyek ini tidak kunjung selesai sampai tahun 2018, dikhawatirkan perekonomian Indonesia akan hancur. Daya beli masyarakat pada saat itu bisa berkurang dan rupiah bisa anjlok ke level 50rb per dolar Amerika.

Lah, terus apa hubungannya sama menabung?

Gini, seiring perjalanan waktu, di tengah susahnya pergerakan ekonomi, inflasi akan tetap merangkak dan harga uang akan semakin turun. Dengan kata lain, biaya hidup dan biaya pendidikan akan semakin naik. Menabung dari sekarang untuk pendidikanmu di waktu yang akan datang adalah pilihan terbijak untuk menghindari kemungkinan terburuk dari efek gejolak ekonomi terhadap dunia pendidikan.

#2 Jangan Bikin Indonesia Gagal Mendapat Bonus Demografi

Credit: Antara
Pernahkah kamu mendengar cerita tentang bonus demografi? Itu lho, masa di mana lapangan kerja lebih besar dibanding tenaga kerja produktif yang tersedia. Indonesia diramalkan dapat mendapat “jackpot” dari bonus demografi ini. Konon, populasi masyarakat di negara maju hari ini semakin berkurang karena tidak banyaknya warga mereka yang minat menikah dan memiliki anak. Diramalkan di masa depan, negara-negara maju itu akan kekurangan tenaga kerja, oleh karena itu mereka akan merekrut tenaga kerja dari luar.

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia diprediksi dapat mengambil “jackpot” itu. Asalkannnn,....

Asalkan, tenaga kerja usia produktif tersebut memang memiliki skill khusus di bidang tertentu, alias berkualitas. Ya, kalau banyak saja tapi tidak berkualitas dan menjanjikan gak bakal diterima kerja. Oleh karenanya, kita yang hari ini masih pelajar harus siap-siap menyambut masa itu dengan meningkatkan kemampuan dan kapasitas diri kita.

Bila sampai masanya nanti, kita mampu menegakkan kepala di hadapat orang-orang dari belahan dunia lain, dan bilang: apa lo lihat-lihat, lo makan nasi gue juga makan nasi, lo punya skill gue juga punya. Kita sama!

#3 Berhentilah Mencoreng Wajah Indonesia

Credit: artikeltutorial.com
Dari dahulu kala, Indonesia terkenal dengan negeri yang penduduknya ramah sekali. Murah senyum dan santun. Tak heran jika Indonesia kerap disinggahi oleh para pedagang dari seantero dunia dan menjadi rute perjalanan dagang baik jalur darat maupun laut.

Tapi kini, semua berubah setelah negara api menyerang!

Eh, maksudnya negara api di sini adalah egoisme. Yap, egoisme yang melenyapkan kesantunan dan keramahan dalam diri kita, terutama anak muda.

Lihatlah kawan, linimasa media sosialmu, bukankah banyak kamu temukan umpatan-umpatan, debat kusir tak jelas, saling jatuh menjatuhkan, saling ejek, saling hina dan segala ketidakbaikan lainnya. Semua ketidakramahan itu termanifestasi dalam meme-meme yang kita buat atau kita share. Dalam status dan artikel yang kita baca dan kita propagandakan.

Jangan salahkan orang lain, mari periksa diri kita sendiri yang merupakan generasi muda, cerminan Indonesia di masa depan. Jangan egois :)

#4 Jangan cuma ngedumel atau kesel, gantikan mereka

Kapan main ke Senayan? (Credit: kabarcsr.com)
Oke, fine. Semuanya masih wajar dan aman terkendali saat kamu kesel bin sebel sama orang-orang tua yang hari ini, dalam kacamata kamu, gak beres mengurus negeri ini. But, what is the next? Cuma ngedumel aja gak bakal mengubah sesuatu. Solusinya jelas, hanya satu: gantikan posisi mereka dan buatlah negeri ini jadi lebih sejahtera.

Tapi, tunggu. Saat ini mungkin masih terlalu dini untuk menceburkan diri ke ranah yang amat berbahaya itu. Kita belum cukup belajar, maka marilah kita timba ilmu dulu. Belajar dan menyiapkan bekal untuk masa kita nanti. Karena masa akan berganti, para pemimpinnya demikian juga.

#5 Jangan kebanyakan tertawa

(sumber tertera)
Berhibur itu boleh, tapi kalau kebanyakan gak sehat juga. Apalagi jika sampai kebanyakan tertawa (bisa rusak kotak ketawamu). Jangan buang-buang waktumu untuk sesuatu yang tidak perlu. Tampar wajahmu sendiri dan bilang pada dirimu bahwa saat ini pelajar Indonesia sedang krisis percaya diri dan minim prestasi.

Di belahan bumi sana, seorang bocah lelaki umur 14 tahun berhasil membuat proyek ilmiahnya sendiri yang dikagumi oleh bos Efbi (FB—pen). Di belahan bumi sana, seorang perempuan 18 tahun berhasil sabet berbagai penghargaan bergengsi untuk sebuah penemuan kecil charger yang bisa mengisi selama 20 detik saja. Dan di belahan bumi lainnya, anak-anak kecil bahkan masih bisa menghafal kitab suci di tengah suasana perang dan berbagai ancaman yang siap merenggut nyawa mereka.

Dan, kita masih sibuk tertawa?

#6 Berjuanglah untuk kemerdekaan jilid 2

Credit: pendoasion.wordpress.com
Tujuh puluh satu tahun pasca kemerdekaan Republik Indonesia, muncul sebuah pertanyaan yang cukup gila: apakah kita benar-benar sudah merdeka?

Secara fisik barangkali negeri ini telah merdeka cukup lama, tapi sejatinya kita masih terjajah di berbagai sektor karena kita belum bisa dengan mandiri mengatur diri kita sendiri. Berkiblat pada tren dan mode luar negeri. Tidak bisa mengelola hasil bumi dengan tangan sendiri, serta hal yang bikin nyesek lainnya.

Indonesia mungkin sudah punya banyak orang pintar, tapi belum cukup banyak orang cerdas. Orang cerdas seperti Soekarno, Hatta, Agus Salim dan lainnya yang mampu bicara di ranah dunia dan disegani oleh banyak orang.

Maka, berjuanglah kawan, bawalah negeri ini untuk mencapai kemerdekaan sesungguhnya dengan segala potensi dan prestasi yang kita punya.

#7 Hormat pada orang tua, orang yang dituakan dan orang yang lebih tua

Credit: kesekolah.com
Belakangan banyak terjadi kasus di mana orang tua siswa di rumah mempenjarakan orang tua siswa di sekolah. Terjadi berbagai kasus kesewenangan para orang tua terhadap guru yang benar-benar pilu.
Pelajar sejati adalah mereka yang pandai menempatkan diri, menghormati orang yang patut dihormati, berbuat sesuatu sesuai norma yang berlaku.

#8 Jadilah orang-orang yang beragama

Credit: pusakaindonesia.org
Sedih sekali rasanya saat semakin banyak orang di negeri ini yang membuang kepercayaannya akan Tuhan dan berbangga dengan itu. Apa mereka lupa kali ya, kalau sila pertama itu adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Negeri ini adalah negeri orang-orang yang beragama. Orang-orang yang mampu hidup dengan adil dan beradab. Saling menghormati bukan saling benci. Saling membantu bukan saling siku. Kita, pelajar, adalah generasi harapan. Wujudkanlah harapan itu dengan membentuk diri kita sebagai seseorang yang mengerti dan taat beragama dan mampu hidup berdampingan dengan damai dengan penganut agama lain.

#9 Jangan bangga berbuat nakal

Well, beberapa waktu belakangan ini jagat media sosial diramaikan oleh perbincangan mengenai mereka-mereka yang bangga berbuat nakal. Berdalih “dari pada munafik” atau “kalian suci, gue penuh dosa” lalu tanpa bersalah mengampanyekan kenakalan. Please deh, yang seperti itu gak keren kali men!

Keren itu kalau lu bisa jadi anak baik-baik di tengah ruwetnya dunia hari ini. Melawan setan-setan yang udah kebangetan. Dan, lu pada masih bisa teguh pendirian. Itu baru keren. Banggalah berbuat kebaikan, bukan justru berbuat kenakalan.

#10 Jadilah jomblo seperti Hatta

Mohammad Hatta dan Rachmi Rahim (Credit: orangdalam.com)
Mungkin cerita ini tidak bisa dikatakan sebagai untold story, tapi kita juga tidak bisa menafikan bahwa tak banyak yang tahu cerita ini. Cerita tentang kejombloan M Hatta demi memperjuangkan kemerdekaan negeri tercinta.

Hatta berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah sebelum negeri ini memproklamirkan kemerdekaannya. Beliau baru menikah pada 18 November 1945, 3 bulan setelah proklamasi kemerdekaan pada usianya yang tidak lagi terbilang muda, yaitu 43 tahun! Hatta adalah tipikal lelaki berprinsip dan berkemauan keras. Maka seyogyanya kita juga seperti itu.

Jadilah jomblo seperti Hatta, pun jika syarat cinta kita bukanlah merdeka, setidaknya bisa diganti menjadi tamat kuliah atau kerja saja. Yang jelas, capailah dulu cita-citamu. Wujudkan dulu harapan orang tua dan keluargamu. Soal cinta biarlah urusan nanti. Urusan saat kita sudah benar-benar pantas untuk mencintai dengan cara yang sebenarnya, sesuatu yang lebih serius ketimbang berpacaran semata (apaaa sih).

Dan, sebelum artikel ini ditutup, penting untuk kita sadari bahwa pesan-pesan ini tidak ditulis untuk pembaca yang berbahagia saja, tapi juga untuk diri penulis sendiri. Tak cukup sampai di situ, jika kamu merasa terbantu oleh tulisan ini jangan ragu untuk menyebarkannya pada temanmu. Nyatanya Indonesia hari ini, bisa dibilang, tengah berada pada kondisi darurat. Tapi semua itu belum terlambat, sebab masih ada kita, anak-anak muda yang siap mengerahkan segala sesuatu untuk kesejahteraan negeri ini. Semoga negeri ini selalu berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.[]

Comments

Popular posts from this blog

Apa perbedaan Pacaran, HTS dan Backstreet? Mana yang lebih baik?

10 Alasan Mengapa “Haram” Untukmu Melewatkan Kesempatan Student Exchange

10 Nasehat Kecil di Minggu-minggu Awal Tahun Ajaran Baru